Skip navigation


KONDISI domestik maupun global yang sedang mengalami perubahan besar dan mendasar, menuntut setiap negara di dunia merumuskan kembali arah politik luar negerinya. Apalagi perubahan itu berlangsung begitu cepat, bahkan jauh lebih cepat dari perkiraan siapa pun.

Kiranya menarik apa yang dikatakan Menteri Luar Negeri (Menlu) Hassan Wirajuda, perubahan itu merupakan tantangan tetapi sekaligus peluang. Bangsa Indonesia bisa menarik manfaat, sekaligus menghindari kerugian, jika mampu menggunakan peluang perubahan yang dihadapi.

Pernyataan Menlu terasa semakin penting karena dikeluarkan pada momentum peringatan 57 tahun berdirinya Departemen Luar Negeri (Deplu) hari Senin 19 Agustus, kemarin. Peran Deplu dan diplomasi Indonesia disoroti dalam perspektif perubahan kosmologi global dan domestik.

PROSES perubahan mendasar di tingkat global maupun domestik menuntut perubahan pemahaman dan perilaku. Dalam perubahan besar itu muncul pemahaman baru dunia tentang Indonesia, dan sebaliknya pemahaman baru Indonesia tentang dunia.

Perubahan mendasar dunia terjadi akibat proses globalisasi dan transparansi. Proses globalisasi yang didorong oleh revolusi informasi dan transportasi membuat dunia terasa semakin kecil dan perbatasan antara negara pun menjadi maya.

Kondisi setiap negara dengan mudah disoroti masyarakat internasional. Dalam arus transparansi global, berbagai peristiwa yang baik atau buruk dengan mudah diketahui dunia luar. Kejadian di satu tempat dengan cepat diketahui di benua yang jauh akibat telekomunikasi.

Sebagai konsekuensinya, upaya menyembunyikan sesuatu semakin sulit dilakukan. Sebaliknya pula, ruang melakukan rekayasa tentang citra semakin sempit. Kenyataan domestik sebuah negara dengan mudah diketahui dunia luar.

TANTANGAN bagi Indonesia, bagaimana menghadapi perubahan di tingkat global dan domestik yang begitu cepat. Menlu Hassan Wirajuda mengingatkan, gejala perubahan yang dipicu oleh revolusi informasi dan proses globalisasi bukan hanya menghadirkan banyak manfaat dan peluang, tetapi juga mengandung potensi bencana.

Masih menjadi pertanyaan besar, apakah bangsa Indonesia menyadari dan memahami perubahan yang sedang berlangsung di tingkat global maupun domestik. Ada yang berpendapat, jangankan rakyat biasa, para elite pun belum tentu mencermati perubahan-perubahan yang sedang berlangsung dengan segala implikasinya.

Perlu disadari, proses globalisasi membuat persoalan internasional dan domestik semakin sulit dipisahkan. Atas dasar itu, Menlu menyatakan pentingnya pendekatan integratif yang mempersempit jarak antara kebijaksanaan domestik dan kebijaksanaan luar negeri.

Pendekatan integratif juga harus dilakukan antara kebijaksanaan sektoral di bidang sosial, politik, pertahanan, keamanan, serta budaya pada tingkat internasional dan domestik.

SPEKTRUM persoalan yang begitu luas dan rumit perlu ditangani dan dipecahkan bersama-sama. Semua komponen bangsa harus bersatu melakukan upaya terpadu, yang disebut Menlu sebagai diplomasi total. Pejabat pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama menyelesaikan tantangan bangsa.

Untuk itu, tidak hanya dibutuhkan profesionalitas, tetapi juga visi yang jelas tentang tantangan dan peluang yang dihadapi bangsa di tengah gelombang perubahan. Seluruh komponen masyarakat perlu menyadari tuntutan dan prinsip yang dikembangkan pada era globalisasi saat ini.

Dalam era globalisasi, citra kehebatan suatu bangsa, misalnya, bukan pertama-tama terletak pada kekuatan militer, keluasan wilayah, dan besaran penduduk, tetapi lebih pada tingkat kesejahteraan masyarakat, kualitas demokrasi, perlindungan hak asasi manusia, dan lingkungan hidup.

Negara-negara yang kecil dalam ukuran wilayah dan penduduk, sering meraih citra tinggi dan nama besar karena unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan menjamin kesejahteraan hidup rakyatnya. Sebaliknya, negara yang gagal memajukan kehidupan rakyatnya dilecehkan dan cenderung dikecilkan di panggung dunia.

UPAYA memperbaiki citra bangsa di panggung dunia melalui politik dan diplomasi internasional akan sia-sia jika berbagai persoalan dalam negeri tidak dibenahi. Apalagi politik atau diplomasi luar negeri merupakan kelanjutan politik dalam negeri. Kinerja politik luar negeri sangat tergantung pada kondisi domestik. Keadaan dalam negeri akan terefleksi pada diplomasi di panggung dunia.

Sebaliknya pula, hasil politik dan diplomasi di panggung dunia harus memberi manfaat pada kepentingan dalam negeri, lebih-lebih di era pragmatisme sekarang ini. Mungkin karena itu sering terdengar pertanyaan, apa saja yang dilakukan para diplomat dan staf kedutaan Indonesia di seluruh dunia?

Tentu saja banyak yang dikerjakan, tetapi karena kerahasiaan, tidak disiarkan ke masyarakat luas. Hanya saja tidak jarang terdengar, para diplomat sering mengeluh karena informasi berharga yang dikumpulkan jarang ditindaklanjuti.

Sekadar contoh, informasi perdagangan dan potensi pasar sebuah negara, misalnya, tidak dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan perdagangan Indonesia. Kerja para diplomat pun sering menjadi mubazir. Kenyataan ini merupakan refleksi dari kelemahan bangsa secara keseluruhan. Lantas siapa yang salah dan dipersalahkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: